Dasar Ilmu Pengobatan Nabawi

Share:

Ilmu pengobatan nabawi dari Ibnu Qoyyim Al-Zauziyah. Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian makhluk. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi yang paling mulia, penutup para nabi, Muhammad SAW, kepada sanak keluarga, dan para sahabat beliau, amma ba’du:

Berikut ini adalah beberapa pasal pembahasan penting berkaitan dengan petunjuk Rasulullah dalam ilmu pengobatan nabawi yang baliau gunakan dan beliau rekomendasikan untuk digunakan oleh orang lain. Kami akan menjelaskan hikmah dalam pengobatan beliau yang tidak mampu dicapai oleh pakar kedokteran terhebat sekalipun. Dengan memohon pertolongan kepada Allah dan bersandar pada daya dan kekuatan Allah, author memulai pembahasan ilmu pengobatan nabawi ini :

Klasifikasi Ilmu Pengobatan Nabawi

Penyakit ada dua macam, penyakit hati dan penyakit jasmani. Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Qur’an.

Dasar Ilmu Pengobatan Nabawi

a. Penyakit Hati

Dalam ilmu pengobatan nabawi penyakit hati sendiri terbagi menjadi dua. Penyakit syubhat yang disertai keragu-raguan dan penyakit syahwat yang disertai kesesatan. Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Qur’an.

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah : 10).

Allah juga berfirman :

“..supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?..” (Al-Muddatstsir : 31).

Berkenaan dengan orang-orang yang diajak untuk mengambil hukum dari kitabullah dan sunnah rasul lalu mereka menolak dan berpaling dari ajakan tersebut, Allah berfirman :

“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim. (An-Nur : 48-50).

Semua ayat ini berkaitan dengan penyakit syubhat dan keraguan, adapun penyakit syahwat, difirmankan oleh Allah :

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (Al-Ahzab : 32).

Ayat ini berkaitan dengan penyakit syahwat zina). Wallahu a’lam.

b. Penyakit Jasmani

Ilmu pengobatan nabawi berkenan dengan penyakit jasmani Allah SWT berfiman :

“..Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit..” (An-Nur : 61).

Allah menyebutkan penyakit jasmani dalam haji, ketika berpuasa dan saat berwudhu, tentunya karena suatu rahasia tersembunyi yang amat menakjubkan yang menjelaskan kepada kita keagungan Al-Qur’an, bahwa bila kita memahami dan mengerti kandungannya, kita tidak lagi membutuhkan petunjuk lain.

Selain itu, formula pengobatan penyakit jasmani ada tiga : Menjaga kesehatan, menjaga tubuh dari unsur-unsur berbahaya dan mengeluarkan zat-zat berbahaya dari dalam tubuh. Allah SWT menjelaskan ketiga formula medis itu di tiga tempat berbeda. Dalam persoalan puasa, Allah SWT berfirman :

“..Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…”(Al-Baqarah : 184).

Salah satu dalam ilmu pengobatan nabawi. Allah membolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa karena alasan sakit dan untuk orang yang sedang bepergian demi menjaga kesehatan dan stamina tubuhnya. Yakni kesehatannya tidak terganggu saat berpuasa karena orang tersebut harus melakukan aktivitas berat (perjalanan) dan juga kesulitan berpuasa seperti pada saat tubuh membutuhkan suntikan energi sementara tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh sehingga mengganggu proses tersebut. Tubuh pun menjadi lemas dan loyo. Dengan alasan itu Allah membolehkan rang yang sedang melakukan perjalanan untuk tidak berpuasa, demi menjaga kesehatannya dan stamina agar tidak menjadi lemah.

Berkenaan dengan ibadah haji Allah Berfirman :

“..Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban..”(Al-Baqarah : 196).

Allah membolehkan orang yang sakit, atau kepalanya bermasalah seperti banyak kutu, berpenyakit kulit, atau karena hal lain, untuk mencukur rambut kepalanya saat melakukan ihram. Yakni untuk mengusit uap-uap jahat yang diakibatkan masalah di kepalanya karena mengendap di balik rambut. Kalau rambut kepala dicukur, pori-pori akan terbuka dan semua uap jahat itu akan keluar dengan sendirinya. Proses pengeluaran zat berbahaya ini bisa dianalogikan dengan segala pengeluaran zat-zat berbahaya yang mendekam dalam tubuh.

Zat yang berbahaya bila mendekam dan tidak segera diatasi ada sepuluh : darah apabila sudah bergejolak, mani bila keluar secara terus menerus, air seni, kotoran, kentut, muntah, bersin, kantuk, rasa lapar dan rasa dahaga. Masing-masing dari sepuluh zat ini, bila ditahan, dapat menimbulkan penyakit. Allah telah memperingatkan, agar kita mengeluakan zat berbahaya yang paling ringan sekalipun, seperti uap jahat yang mengendap di balik rambut, tentunya agar kita pun mengeluarkan zat berbahaya yang lebih sulit lagi dikeluarkan. Itulah metodologi Al-Qur’an, menjadikan hal yang lebih rendah untuk mengindikasiakn hal yang sama pada yang lebih tinggi.

Adapun berkaiatan dengan pemeliharaan tubuh dari unsur-unsur berbahaya, Allah SWT berfirman :

“..Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)..” (An-Nisa : 43).

Orang yang sakit dibolehkan mengganti air dengan debu untuk bersuci. Demi manjaga tubuhnya dari unsur yang berbahaya. Itu merupakan indikasi terhadap sikap pemeliharaan tubuh dari unsur dalam maupun luar yang berbahaya. Bagaimana Anda melihat ilmu pengobatan nabawi ini sekarang.

Allah SWT mengajarkan kepada para hamba-Nya tiga formula medis tersebut dengan berbagai kaidah ilmu kedokteran yang bersifat komprehensif.

Kita pun bisa menengok petunjuk Nabi SAW dalam persoalan yang sama. Kita akan menjelaskan bahwa petunjuk Nabi dalam masalah pengobatan adalah petunjuk yang paling sempurna. Adapun penyakit hati, urusannya jelas diserahkan kepada para rasul karena memang hanya dari mereka dan hanya di tangan mereka solusinya. Karena hati hanya menjadi baik bila mengenal Rabb dan Penciptanya, mengenal asma dan sifat-Nya, perbuatan dan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya, hanya dengan mendahulukan segala hal yang di ridhai dan disenanginya, menjauhi segala larangan dan hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya. Kesehatan dan kehidupan bagi hati manusia hanya bisa dicapai dengan cara itu. Bagaimana jika dibandingkan dengan pengobatan islam vs modern?

Sementara cara itu hanya bisa dipelajari melalui para rasul. Kalau ada anggapan bahwa hati bisa menjadi baik tanpa mengikuti petunjuk para rasul, sungguh merupakan anggapan yang keliru. Karena yang demikian itu hanyalah kehidupan, kesehatan, dan kekuatan hasrat/nafsu kebinatangan yang penuh syahwat semata. Sementara kehidupan, kesehatan dan kekuatan hati yang sesungguhnya justru terabaikan. Semoga bermanfaat ilmu pengobatan nabawi.

Dasar Ilmu Pengobatan Nabawi | Koko Wijanarko | 4.5

Berita Lainnya

error: Exclusive only on Terapimuslim.com !!
Visit Koko Wijanarko at Ping.sg Health Blogs
Health top blog sites
top blog sites Top  blogs