Cara Mengatasi Mastitis Pada Payudara

Share:

Cara mengatasi mastitis pada payudara | Menyusui merupakan periode istimewa bagi kehidupan seorang ibu, setelah hamil dan melahirkan. Betapa tidak, meyusui adalah kegiatan yang menumbuhkan ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi yang baru dilahirkannya, sekaligus menumbuhkan rasa bangga bagi seorang ibu, karena dapat memberikan nutrisi terbaik bagi buah hatinya. Akan tetapi, terkadang kegiatan ini tidak berjalan semulus yang diharapkan, karena adanya beberapa gangguan dan penyakit, di antaranya adalah radang payudara atau mastitis.

Apa itu Mastitis (Peradangan Jaringan Payudara) ?

Mastitis adalah peradangan jaringan payudara yang menyebabkan rasa nyeri, bengkak, rasa panas, dan kemerahan pada payudara. Penyakit ini dapat mengenai siapa saja, baik wanita menyusui, wanita yang tidak menyusui, bahkan sebagian kecil laki-laki, dan dapat diklasifikasikan menjadi puerperal mastitis dan non puerperal mastitis. Puerperal mastitis adalah inflamasi atau peradangan payudara yang berhubungan dengan kehamilan, menyusui, dan penyapihan. Sebaliknya, non puerperal mastitis adalah peradangan payudara yang tidak berhubungan dengan kehamilan dan menyusui.

Cara Mengatasi Mastitis Pada Payudara

Mastitis yang berhubungan dengan menyusui adalah jenis mastitis yang paling banyak terjadi. Pada sebagian besar kasus, gejala muncul pada tiga bulan pertama setelah melahirkan, walaupun dapat terjadi kapan saja selama menyusui, dan cenderung hanya menginfeksi salah satu payudara.

Gejala-gejala yang sering muncul adalah:

  • Nyeri pada payudara dan rasa panas ketika disentuh
  • Perasaan sakit pada seluruh tubuh (malaise)
  • Payudara menjadi bengkak
  • Nyeri dan panas ketika menyusui
  • Kemerahan pada payudara, seringkali berbatas tegas
  • Demam dengan suhu tubuh 38,5 derajat celcius atau lebih

Kapan ibu yang mengalami mastitis harus pergi ke dokter?

Sebagian besar wanita akan merasakan rasa demam yang tidak terlalu tinggi disertai perasaan sakit pada seluruh tubuh dan segera diikuti dengan munculnya kemerahan dan rasa nyeri pada payudara. Apabila gejala dan tanda ini sudah muncul, sebaiknya seorang ibu segera memeriksakan diri ke dokter. Terlebih lagi, apabila ibu melihat keluarnya cairan selain air susu, merasakan rasa nyeri yang semakin berat dan tidak kunjung sembuh, serta rasa nyeri yang tidak dapat dijelaskan.

Faktor Risiko dan Penyebab Mastitis

Beberapa keadaan menjadi fakor risiko terjadinya mastitiss pada menyusui, di antaranya:

  • Menyusui pada minggu-minggu awal setelah persalinan
  • Adanya luka dan kulit yang pecah pada puting susu
  • Selalu menyusui dengan posisi yang sama, sehingga saluran susu tidak terkosongkan dengan sempurna.
  • Memakai bra yang ketat, sehingga menyebabkan hambatan pada aliran susu
  • Stress dan terlalu lelah
  • Adanya riwayat peradangan payudara ketika menyusui sebelumnya
  • Adanya penyakit seperti diabetes, penyakit kronis, dan penyakit kelemahan sistem kekebalan tubuh.
  • Faktor-faktor risiko tersebut tidak serta merta mencetuskan mastitis, tetapi penyakit ini akan muncul dengan adanya penyebab, yaitu:
  • Tersumbatnya saluran susu, yang timbul apabila payudara tidak terkosongkan secara sempurna ketika menyusui. Saluran susu yang tersumbat akan menyebabkan genangan air susu, sehingga menyebabkan infeksi.
  • Masuknya bakteri ke saluran susu. Bakteri dapat masuk ke dalam saluran susu, baik dari kulit di sekitar payudara atau dari mulut bayi melalui kulit yang pecah atau luka pada puting susu. Bakteri yang masuk akan berkembang biak dan menyebabkan infeksi. Bakteri ini tidak berbahaya bagi bayi, akan tetapi dapat menyebabkan penyakit pada payudara. Bakteri yang paling banyak ditemukan S. aureus, walaupun pada beberapa kasus ditemukan S.epidermidis dan streptococci.

Bagaimana mencegah mastitis pada menyusui?

Mastitis menimbulkan gangguan dan rasa tidak nyaman ketika menyusui, baik bagi ibu maupun bayi. Bahkan dapat menyebabkan penyapihan sebelum waktunya. Karena itu, sebaiknya seorang ibu berusaha mencegah timbulnya penyakit ini, dengan melakukan beberapa hal berikut:

  1. Menjaga kebersihan payudara dengan membersihkan dan mencuci tangan setiap kali hendak menyusui
  2. Memerah sedikit ASI /air susu ibu dan mengoleskan pada puting susu dan sekitarnya, karena ASI memiliki efek desinfektan dan membantu menjaga kelembaban kulit sehingga tidak mudah pecah
  3. Memberikan ASI dalam suasana yang santai dan nyaman baik bagi ibu maupun bayi
  4. Mengosongkan payudara dengan sempurna setiap kali menyusui
  5. Membiarkan bayi untuk menghabiskan air susu pada satu payudara sebelum berpindah menyusu pada payudara yang lain setiap kali menyusui
  6. Apabila bayi hanya menghisap payudara kedua selama beberapa menit, maka pada menyusui selanjutnya, mulailah dengan memberikan payudara tersebut
  7. Memberikan payudara yang dihisap pertama kali secara bergantian setiap kali menyusui
  8. Berganti-ganti posisi setiap kali menyusui
  9. Memastikan bayi menyusu dengan posisi yang benar, yaitu: perut bayi menempel keperut ibu, mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara, telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus, serta posisi puting dan lengan bayi juga berada pada satu garis lurus.Pastikan pula mulut bayi membuka lebar sehingga sebagian besar areola tertutup mulut bayi. Cara agar mulut bayi terbuka adalah dengan menyentuhkan puting susu pada bibir atau pipi bayi.
  10. Tidak membiarkan bayi bermain-main dengan puting susu, dan hanya biarkan bayi menghisap ketika dia lapar.

Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Terjadi Mastitis?

Ketika terjadi mastitis, menyusui masih boleh dilakukan. Bahkan, meneruskan menyusui dapat membantu dalam mempercepat penyembuhan infeksi pada payudara. Meski begitu, mungkin saja seorang ibu akan merasakan ketidaknyamanan saat menyusui. Beberapa hal ini dapat dilakukan ibu di rumah, untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat mastitis:

  1. Tetap menyusui secara rutin
  2. Beristirahat dengan cukup untuk memulihkan sistem kekebalan tubuh
  3. Hindari payudara yang terlalu penuh dengan membiarkan bayi tidak menyusu dalam waktu yang lama. Bayi yang baru lahir sampai berusia 4 bulan sebaiknya menyusu setiap 2-3 jam sekali, sedangkan bayi yang lebih besar sebaiknya menyusu setiap 4 jam sekali
  4. Mengganti posisi setiap kali menyusui
  5. Banyak minum air dan makan makanan yang bergizi tinggi
  6. Kompres payudara yang meradang dengan lap hangat, atau mandi air hangat sebelum menyusui, atau memompa sebagian air susu untuk mengosongkan payudara dengan sempurna. Pada mastitis yang ringan, memijat payudara dan mengompres dengan air hangat dapat membantu mengatasi sumbatan pada saluran susu. Akan tetapi, pada mastitis yang berat, kedua cara ini dapat memperberat gejala, sehingga sebaiknya diganti dengan kompres dingin untuk meredakan peradangan yang terjadi.
  7. Mengenakan bra penyokong payudara yang sesuai, nyaman, dan tidak ketat.
  8. Apabila mastitis sangat mengganggu proses menyusui karena nyeri yang hebat atau bayi menolak menyusu dari yang sakit, sebaiknya air susu diberikan dengan cara dipompa, baik dengan pompa khusus ataupun dengan tangan.
  9. Selain itu, ada pula obat-obatan yang sebaiknya diminum untuk mempercepat kesembuhan dan mencegah komplikasi, dengan izin Allah, yaitu:
  10. Antibiotik. Antibiotik harus diminum berdasarkan resep dokter dan biasanya diberikan dalam jangka waktu 10 sampai 14 hari. Efek antibiotik ini akan dirasakan setelah 24 atau 48 jam sejak diminum pertama kali
  11. Anti nyeri, seperti parasetamol, dan ibuprofen

Ibu yang mengalami mastitis sebaiknya tidak mengabaikan penyakit ini dan segera mengobatinya agar tidak terjadi komplikasi yang lebih berat, seperti: berulangnya gejala, penumpukan air susu pada jaringan payudara, dan abses payudara. Abses payudara adalah komplikasi terberat yang dapat ditimbulkan, dan merupakan tumpukan nanah yang memerlukan terapi bedah. Komplikasikomplikasi tersebut biasanya timbul akibat keterlambatan pengobatan atau pengobatan yang tidak tuntas.

Dengan mengenal mastitis pada menyusui, diharapkan seorang ibu lebih peduli terhadap kesehatan dirinya ketika menyusui, baik dengan menjaga higinitas payudara, mengurangi kelelahan dan stress, memperhatikan nutrisinya, serta membekali diri dengan pengetahuan tentang cara menyusui yang benar. Hal-hal sederhana ini ternyata sangat bermanfaat, tidak hanya dalam mencegah mastitis, tetapi secara umum dalam menjaga kelangsungan proses menyusui agar berjalan seperti yang diharapkan dan tidak terputus sebelum waktunya. Ingat, memberikan ASI yang cukup kepada bayi, selain dianjurkan oleh pakar kesehatan, juga merupakan anjuran dalam agama.

Semoga informasi mengenai cara mengatasi mastitis pada payudara ini bermanfaat.

Cara Mengatasi Mastitis Pada Payudara | Koko Wijanarko | 4.5

Berita Lainnya

error: Exclusive only on Terapimuslim.com !!
Visit Koko Wijanarko at Ping.sg Health Blogs
Health top blog sites
top blog sites Top  blogs